Cahaya Harapan


Malam di kerajaan Lembayung sudah mulai terang oleh cahaya obor dan lampu teplok. Beberapa anak masih berkumpul dengan mata disipitkan agar bisa membaca tulisan untuk Ujian besok di sekolah.

“Bagaimana ini ya pak? Kita harus menghemat obor, Titah raja sudah turun kepada semua masyarakat karena Hutan bambu sudah tidak lagi mencukupi” Terdengar obrolan ayah dan Ibu Kesturi dari biliknya.

Kesturi hanya menarik nafas panjang mengingat cita-citanya yang begitu besar untuk terus bersekolah, apalagi Raja sudah memberikan sekolah gratis untuk beberapa anak di desa mereka, termasuk dia.

“Mbak e, kalau hutan bambu sudah habis, apa kita tidak bisa lagi belajar?” tanya Mariaty sambil memandang kakaknya kesturi yang masih terus membaca sambil sesekali mulutnya komat-kamit menghapal pelajaran.

“ya iya, kita ndak bisa lagi membuat obor” jawabnya lalu menarik nafas panjang

“kalau tidak ada obor,  kita tidak bisa belajar di malam hari, padahal sepulang sekolah kan kita harus membantu ibu dan bapak di ladang” lanjutnya

“jadi kakak gak bisa jadi Dokter kerajaan, ya?” Mariaty menatap lekat wajah kakaknya kesturi

“Mungkin ” katanya dan mereka pun diam

Di Istana Lembayung, Raja memanggil para ilmuan-ilmuan kerajaan, mulai dari para Pembuat Ramuan sampai dengan para Arsitek kerajaan.

“Apakah kalian sudah membaca titah saya?” tanya raja kepada semua ilmuan yang datang kesana.

“Tuanku, saya tidak bisa berbuat apa-apa, untuk ramuan dari akar bambu pun saya sudah sulit mencarinya” kata Ilmuan Peramu Obat-Obatan kerajaan.

“Benar Tuanku, kami sudah berusaha mencari jalan keluarnya, tapi  sia-sia semua” demikian semua Ilmuan memberikan alasan kepada Raja.

Raja menjadi resah, membayangkan nasib rakyatnya yang hanya bisa bekerja di siang hari saat matahari muncul. Jika Obor tidak ada maka kegiatan di Kerajaan Lembayung yang letaknya sangat terpencil itu akan berhenti.

“Cobalah kalian pikirkan lagi, cari jalan keluarnya” tegas Raja

“Apa kalian mau semua rakyat di Kerajaan Lembayung ini menjadi bodoh, tidak punya masa depan dan tidak punya cita-cita?”

“kalian kan tahu Kerajaan kita ini tidak bisa dijangkau oleh listrik”

Karena para ilmuan Kerajaan sudah kehabisan ide dan tidak dapat berbuat apa-apa, maka Raja Negeri Lembayung membuat Sayembara Cahaya Harapan, “Bagi Siapa saja yang bisa memberikan ide untuk Cahaya Harapan pengganti Obor, Maka Raja akan menghadiahkan Pendidikan Gratis Sampai Gelar Sarjana”

“Waaah, ini kesempatanku” kata Kesturi meloncak gembira.

“ide, ide” pikirannya melayang pada sebuah cerita yang pernah di dengarnya dari seorang Bangsawan Negeri Tenggara yang singgah sebentar di Negeri Lembayung membeli Rempah-Rempah, saat itu Kesturi membantu membawakan barang-barang  Sang Bangsawan Ternama itu.

“Jangan-Jangan Raja tidak akan mendengarkan ideku ini” dia agak ragu, tapi diberanikannya menghadap Raja Negeri Lembayung.

“Maaf Baginda Raja, jika saya yang masih kecil ini sangat lancang dan berani menghadap Raja” dengan penuh hormat dan sopan santun Kesturi mengungkapkan idenya kepada Raja.

“Apa..?” Wajah Raja sedikit terkejut.

“Benar apa yang kau katakan itu Gadis kecil?” Raja menatapnya  dengan wajah kurang percaya.

“Benar Baginda Raja, Bangsawan itu berkata kalau Negeri mereka yang terpencil sudah terang benderang setiap saat” jelasnya

“LIMAR Baginda, itu kata Bangsawan itu, sungguh saya tidak berbohong Baginda” Kesturi mencoba meyakinkan Raja.

“Ah,  betapa jeli dan perhatiannya kau gadis kecil, jika benar apa yang kau katakan, aku akan turut membawamu untuk bertemu Bangsawan itu ke Negeri Tenggara”

“Aku yakin dia masih mengenali Wajahmu karena kebaikan hatimu” kata Raja lagi.

Atas Ijin Ibunda dan Ayahanda Kesturi, Raja membawanya ke Negeri Tenggara, mereka harus menempuh perjalanan darat dan laut selama 5 Hari. Betapa terkejutnya Raja, Negeri Tenggara yang tidak terlalu luas itu ternyata sangat Sejuk dan Indah. Raja Negeri tenggara menyambut mereka dengan gembira.

“Mari sahabat, selamat Datang di Negeri Tenggara” kata Raja Negeri Tenggara.

Mereka memasuki sebuah Ruang kerajaan dan Raja menekan Stop Kontak di Dinding ruangan, Sehingga Ruangan menjadi terang benderang, dan betapa terkejutnya Raja Negeri Lembayung.

“Benar Katamu Kesturi, kau tidak berbohong” kata Raja

Raja Negeri Tenggara Membawa mereka ke rumah Bangsawan terkenal itu.

“Akhirnya kamu sampai juga di Negeriku Gadis kecil yang baik hati” kata Bangsawan itu sambil  menyambut mereka dengan gembira.

Raja mengutarakan keluh kesah dan niatnya kepada Raja dan Bangsawan Negeri Tenggara.

“Benar Baginda, karena Negeri kami ini terpencil dan jauh di pedalaman, maka listrik tidak dapat masuk”

“Kami menggunakan Teknologi LIMAR, yaitu Listrik Mandiri Rakyat”

“Baginda tidak perlu khawatir, Listrik ini bersumber dari Panas Matahari, dan menggunakan Lampu yang hemat energi, namanya LED Baginda”

“Jikapun matahari tidak bersinar terik beberapa hari, kita masih punya persediaan listrik, jadi tidak akan ada pemadaman” Demikianlah Sang Bangsawan menerangkan tentang LIMAR kepada Raja dan Kesturi.

Karena kebijakan Raja dan kebaikan Raja Negeri Tenggara, maka dalam Beberapa Bulan berhasillah dikembangkan Teknologi LIMAR di Negeri Lembayung.

Rumah-Rumah Sudah Terang, dan Penghuni Negeri tidak perlu lagi menebangi kayu maupun hutan Bambu untuk membuat Lampu di malam hari.

“Kesturi, karena idemu, maka Aku Raja Negeri Lembayung menghadiahkan kepadamu dan Pendidikan Gratis kemana saja kau mau” Demikian Raja memberi hadiah kepada Kesturi.

Akhirnya semua anak-anak di Negeri Lembayung sudah dapat belajar siang dan malam, semua itu berkat Kesturi yang suka membantu orang lain dan selalu mau mendengarkan orang lain ketika berbicara.

Hutan bambu menjadi lestari dan Ilmuan Peramu obat tidak perlu khawatir lagi akan kehabisan akar bambu untuk obat-obatan.

Cahaya Harapan sudah terbit di Negeri Lembayung dengan menggunakan Energi Matahari dan lampu LED yang hemat Energi.

————————————————-

Nah adik-adik, Sekarang adik-adik sudah tahukan bahwa Kita bisa menggunakan Energi Matahari untuk listrik, dengan begitu kita bisa mengurangi pemanasan bumi dan menjaga kelestarian alam kita. Oh ya, jangan lupa Pakai Lampu LED untuk lebih hemat energi ya. Salam Sayang dari Kak Jumialely

Source :

http://www.alpensteel.com/article/46-102-energi-matahari–surya–solar/4311–penerangan-listrik-mandiri-rakyat-limar-di-ntb.html

http://chuanfei.multiply.com/journal/item/23/LIMAR_LAMPU_PENERANG_ALTERNATIF

Picture’s Source : foruminspirasi.wordpress.com

Artikel Ini diikutkan dalam Lomba Menulis Cerita Anak (Dongeng) Sarikata.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Cerita Anak, Kontes dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cahaya Harapan

  1. yasinta ika berkata:

    waaahhh…Seru mbak ceritanya….

    Happy writing ya mba…:D

    Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s